Gerakan 30 September 1965

By | 1 October 2016

Bumi21, Agen Bola Terpercaya, Rangkuman Peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965, Pengkhianatan G 30S/PKI, Sejarah Peristiwa G303/PKI.

Bumi21 – 51 tahun yang lalu, pada tanggal 30 September 1965 terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh Gerakan 30 September yang disingkat  dengan  G 30S/PKI terhadap pergelokan nasional setelah beberapa tahun merdeka. Partai Komunis Indonesia (PKI) ini merupakan partai komunis terbesar di seluruh dunia, selain di China dan Uni Soviet.

Setiap tahunnya pada masa pemerintahan Soeharto, saluran televisi akan menayangkan ulang film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang menunjukkan versi resmi apa yang terjadi pada peristiwa tersebut, dan upacara yang diadakan di Lubang Buaya.

Peristiwa G 30S/PKI dimulai pada tanggal 1 Oktober dini hari, dimana kelompok pasukan bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma menuju daerah selatan Jakarta untuk menculik 7 Jenderal yang merupakan anggota dari staf tentara dan perwira tinggi Angkatan Darat. Tiga orang yang dibunuh langsung di kediamannya yaitu Jenderal Ahmad Yani (Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) , Letnan Jenderal M.T. Haryono (Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan) dan Mayor Jenderal  D.I. Panjaitan (Panglima AD bidang Logistik). Ketiga target lain yang ditangkap hidup-hidup adalah Letnan Jenderal Suprapto (Panglima AD bidang Administrasi) , Letnan Jenderal Siswondo Parman (Panglima AD bidang Intelijen), dan Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat). Sedangkan target utama mereka, Jenderal Abdul Harris Nasution berhasil kabur setelah melompat dinding yang berbatasan dengan taman kedutaan besar Iraq. Namun ajudan pribadinya, Pierre Tandean ditangkap karena mengaku sebagai A.H. Nasution. Sementara anak gadisnya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani harus tertembak oleh regu sergap dan akhirnya tewas pada 6 Oktober.

Keseluruhan mayat yang ditembak dan para jenderal yang masih hidup kemudian dibawa ke Lubang Buaya. Mereka semua dibunuh serta mayatnya dibuang ke dalam sumur dekat markas tersebut.  Dalam peristiwa ini juga memakan korban lainnya, yaitu seorang polisi yang menjadi penjaga rumah tetangga korban, Karel Satsuit Tubun dan keponakan dari D.I. Panjaitan, Albert Naiborhu yang tewas saat penyerangan ke  rumah jenderal tersebut.

Ketika matahari terbit, sekitar 2.000 pasukan diturunkan untuk menduduki tempat yang sekarang dikenal dengan Lapangan Merdeka, sebuah taman yang ada di Monas. Namun mereka tidak berhasil menguasai bagian timur dari area ini, karena pada saat itu merupakan daerah markas KOSTRAD yang dipimpin oleh Soeharto selaku Panglima Komando Strategis Angkatan Darat.

G 30S/PKI baru berakhir ketika pada pukul 7 malam, saat pasukan yang dipimpin oleh Soeharto berhasil mengambil kembali kontrol atas semua fasilitas yang sebelumnya direbut oleh Gerakan 30 September. Untuk jasad yang terbunuh dan dibuang di Lubang Buaya baru ditemukan pada tanggal 3 Oktober dan dikuburkan secara layak pada tanggal 5 Oktober.

Perhitungan PKI dalam peristiwa G 30S/PKI ini mungkin salah dikarenakan melewatkan Soeharto yang dianggap tidak memiliki kekuatan dan bukan tokoh politik pada masa itu. Nama Soeharto tidak pernah disinggung dalam rapat PKI karena tidak pernah diperhitungkan dan dianggap tidak penting sama sekali.

Di Jogjakarta, PKI melakukan pembunuhan terhadap Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Jogjakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono ( Kepala Staf Korem 072/Jogjakarta). Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi.

Homepage Bumi21.com Daftar Bumi21.com Promo Bumi21.com

Salam hangat,
Bumi21.com
Agen bola terpercaya, Situs judi bola online terpercaya, casino online, poker online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *