Kisah Dewi Suryana Sampai Akhirnya Menjadi Lulusan Tercepat di Singapura

By | 29 September 2016

Bumi21, Agen Bola Terpercaya, Kisah Dewi Suryana, Pengorbanan Dewi Suryana Menjadi Lulusan Tercepat di Singapura, Kisah Dewi Suryana dari Keluarga Sederhana Lulus Memuaskan di Singapura.

Bumi21 – Dewi Suryana berhasil menyelesaikan kuliahnya di Singapura dengan predikat terbaik First Class Honours dari jurusan Teknik Material pada 30 Juni 2016. Prestasi ini tidak main-main mengingat hanya lima persen mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat pretisius itu. Semua itu diselesaikan dalam waktu tiga tahun, lebih cepat dibanding dengan rata-rata mahasiswa pada umumnya yang menempuh studi selama empat tahun.

Dewi, anak kedua dari empat bersaudara ini berasal dari Pontianak, hidup dalam keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai seorang tukang elektronik serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sedangkan ibunya membantu orang lain dengan berjualan baju dan dodol durian. Dan mereka harus hidup menumpang di rumah milik saudara ayahnya.

Bakat dan kepintaran Dewi sudah nampak sejak menduduki bangku sekolah menengah di SMP Immanuel, Pontianak. Dia pernah mewakili Indonesia di dua lomba sains internasional, dan berhasil meraih medali perak di International  Junior Science Olympiad ( IJSO) di Baku, Azerbaijan tahun 2009 dan juga memboyong medali perak dari kejuaraan bergengsi  International Chemistry Olympiad (ICHO) di Washington DC, Amerika Serikat tahun 2012.

Keadaan bertambah rumit ketika ayahnya yang sudah tua serta sakit-sakitan dan tidak ada uang untuk berobat. Kehidupan yang serba terbatas itu menjadi motivasi bagi Dewi untuk berburu beasiswa  sekolah demi meringankan beban orangtuanya. Akhirnya tekad tersebut membawakan hasil sejak Dewi menempuh pendidikan di SMP Immanuel, Pontianak. Meskipun awalnya Dewi sempat menunggak uang sekolah sebelum akhirnya dia  mendapat bantuan  beasiswa tersebut.

Memasuki jenjang SMA, Dewi kembali mendapatkan beasiswa di kelas bergengsi Brilliant Class di SMAK Penabur Gading Serpong. Kelas ini dikhususkan untuk anak-anak yang mempunyai bakat kemampuan di atas rata-rata di bidang ilmu pengetahuan alam.

Sewaktu di bangku SMA, Dewi sudah mulai menjadi tulang punggung keluarga. Dia mulai mencari pekerjaan sambilan sebagai guru les privat dan menjadi pengajar paruh waktu di Wardaya College. Wardaya College merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan murid-murid  belajar untuk olimpiade, yang mempersiapkan diri masuk ke universitas dalam maupun luar negeri sekaligus menyediakan situs belajar online atau e-learning gratis.

Setelah tamat SMA, Dewi membidik cita-citanya untuk kuliah di jurusan farmasi National University of Singapore (NUS). Ia berhasil memenuhi seluruh persyaratan masuk di universitas bergengsi itu kecuali satu hal, kemampuan berbahasa Inggrisnya masih di bawah standard NUS. Cita-citanya sejak kecil agar bisa kuliah sambil bekerja di luar negeri harus berhenti sampai di sini. Sempat terpikir olehnya untuk mengalihkan pilihan ke kampus dalam negeri yakni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Melihat kondisi ayahnya yang masih sakit-sakitan dan kedua adiknya yang masih bersekolah, Dewi bimbang untuk melanjutkan studi di kampus UI. Karena setidaknya perlu waktu paling cepat 5 tahun untuk menuntaskan ilmu kedokteran, itupun belum termasuk mengambil bagian spesialisasi.

Kesusahan Dewi akhirnya terdengar sampai ke telinga Anton Wardaya, pendiri lembaga pendidikan Wardaya College, tempat dimana Dewi pernah bekerja paruh waktu ketika SMA.

Melalui kegiatan study tour yang diadakan Anton di Singapura,  Anton  mendapatkan kesempatan untuk berbicara kepada salah satu professor Nanyang Technological University (NTU). Anton berhasil meyakinkan bahwa Dewi penuh dengan sederetan prestasi dan layak untuk masuk ke universitas itu.

Tawaran beasiswa akhirnya datang ke Dewi, bukan hanya satu tetapi dua kesempatan sekaligus. Tawaran yang pertama datang dari pemerintah Singapura melalui Kementerian Pendidikan Singapura. Sedangkan tawaran yang kedua merupakan beasiswa Olimpiade Sains Internasional dari pemerintah Indonesia.

Dewi akhirnya memilih beasiswa dari pemerintah Indonesia karena dilengkapi dengan uang saku, beda dengan beasiswa dari pemerintah Singapura yang disertakan dengan ikatan kerja dinas. Akan tetapi langkah Dewi tidak semulus yang dibayangkan. Pencairan beasiswa selalu terlambat sehingga ia harus pintar-pintar mengatur pengeluarannya agar cukup hingga masa pencairan selanjutnya.

Dewi berusaha mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi guru les privat seperti yang pernah dilakukannya saat di Jakarta. Namun ia sulit untuk mendapatkan murid karena tidak memiliki pengalaman mengajar dengan bahasa Inggris.  Anton sering membantu Dewi ketika kehabisan uang sebelum beasiswanya cair, kali ini dia membantunya mencarikan murid di Singapura. Dari murid yang dirujuk Anton, perlahan-lahan Dewi mulai mengasah bahasa Inggrisnya. Dari semula yang hanya satu murid, akhirnya muridnya bertambah hingga 13 orang. Ia mengajar setiap Sabtu dan Minggu.

Dari hasil mengajar tambahan itu, Dewi dapat menabung dan mengirim sebagian pendapatannya kepada keluarganya di Pontianak. Keadaan keluarga sudah lebih baik dan sudah dapat membeli rumah melalui KPR.

Saat ini Dewi telah bekerja di Lam Research Corporation sebagai filed process enginner. Perusahaan ini telah menerimanya sebelum dia lulus kuliah. Dia juga masih tetap mengajar privat di malam hari seusai jam kerja kantor. Dia berencana mengurangi aktivitas itu agar memiliki waktu lebih lama untuk beristirahat dan berkomunikasi dengan keluarganya.

Homepage Bumi21.com Daftar Bumi21.com Promo Bumi21.com

Salam hangat,
Bumi21.com
Agen bola terpercaya, Situs judi bola online terpercaya, casino online, poker online.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *